Serang Update – Keberadaan Koperasi Merah Putih (KMP) di sejumlah kelurahan di Kota Serang diharapkan dapat menjadi pendorong ekonomi kerakyatan. Namun, program yang semestinya menjadi kekuatan masyarakat ini masih menghadapi persoalan mendasar yang menghambat operasional di lapangan.

Minim Fasilitas dan Modal Usaha
Dari total 67 KMP yang dibentuk, hanya sebagian kecil yang benar-benar mampu berjalan. Banyak di antaranya belum memiliki kantor tetap, fasilitas kerja, maupun struktur organisasi yang solid. Minimnya modal bergulir serta lemahnya manajemen internal turut memperparah kondisi tersebut.
Selain itu, belum adanya petunjuk teknis yang jelas dari pemerintah pusat membuat banyak koperasi kebingungan menentukan arah usaha. Akibatnya, fungsi koperasi sebagai wadah pemberdayaan ekonomi warga tidak bisa berjalan optimal.
Baca Juga : Koperasi Merah Putih Kota Serang Terhambat Modal dan Petunjuk Teknis
Contoh Kasus: KMP Kuranji Masih Menumpang di Kelurahan
Di Kelurahan Kuranji, kondisi serupa terjadi. Koperasi setempat masih beroperasi tanpa kantor sendiri dan menumpang di salah satu ruangan kantor kelurahan. Kegiatan berjalan tanpa laporan rutin, tanpa fasilitas memadai, bahkan tanpa kehadiran pengurus aktif yang seharusnya menjadi motor penggerak.
Lurah Kuranji yang baru menjabat, H. Jaenuri, mengakui kondisi tersebut secara terbuka. “Saya belum menerima informasi apa pun terkait keberadaan dan aktivitas koperasi itu,” ujarnya. Hal ini menegaskan bahwa koordinasi antarunit terkait masih lemah.
Semangat Warga Tidak Padam
Kendati penuh tantangan, semangat sebagian warga untuk menjadikan KMP sebagai pilar ekonomi tetap menyala. Mereka berharap ada kejelasan kebijakan, dukungan pendanaan, serta pendampingan manajemen agar koperasi bisa tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ke depan, sinergi pemerintah kota, dinas terkait, dan pengurus koperasi menjadi kunci untuk menghidupkan kembali fungsi KMP sebagai gerakan ekonomi berbasis kebersamaan. Tanpa langkah konkret, puluhan koperasi itu dikhawatirkan hanya menjadi nama tanpa aktivitas.

















